Rabu, 05 08 2026 | Jam Digital
 
Home Pemerintah Legislatif Politik Hukrim Selebriti Nasional Pendidikan Ekonomi Travel Sosial Olahraga Teknologi Lifestyle
 
BETERNAK KEGADUHAN
Minggu, 18-10-2020 - 22:14:37 WIB
Foto Kapitra Ampera ist/*
TERKAIT:
   
 

By: Dr. M. Kapitra Ampera, SH., MH. 


Di Negara demokrasi seperti Indonesia, memang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpendapat, berpolitik, dan bebas untuk mengkoreksi serta mengkritisi jalannya pemerintahan. 

Hal ini baik bagi perlindungan 
hak masyarakat dan jalannya pemerintahan, namun sayangnya kebebasan dalam demokrasi itu dijadikan alat politik kekuasaan yang agitatif dan destruktif bagi 
sekelompok masyarakat. 

Bagi pihak yang mengincar kekuasaan yang sah, kebebasan berpendapat menjadi corong untuk membuat kegaduhan, sehingga tak salah masyarakat jadi berprasangka buruk terhadap kinerja dan kebijakan pemegang kekuasaan saat ini. 

Suhu politik sengaja dibuat panas, dari dimunculkannya “politik identitas”, promodial, hingga rasialis. Kegaduhan-kegaduhan sengaja diciptakan untuk diproyeksikan kepada masyarakat, seakan-akan segala kesulitan adalah akibat “tidak becusnya” pemerintah dalam mengelola negara.

Sebagian masyarakat seperti tumpukan kertas kering, yang cepat terbakar di percikan api para pengincar kekuasaan. Ironisnya agama pun ikut dijadikan bahan bakar. Membuat gaduh dilakukan dengan berbagai macam cara, ada yang dalam diam namun sibuk menebar kebencian melalui jaringan dunia maya, ada yang terang-terangan menghujat dan menghasut di depan umum tapi merefleksikan dengan cara yang beretika, sebagian bahkan mengahasut dan turut dalam demonstrasi yang merusak, sehingga menimbulkan korban dan kerusakan ada faslitas umum. Maka tidaklah heran jika kata seperti “bunuh, gantung,” dan kata-kata kotor kerap terdengar di berbagai aksi demo saat ini. 

Ya, politik sengaja dibuat gaduh. Bahkan kegaduhan tersebut harus dinikmati 
masyarakat, agar terjadi konflik. Dan konflik membuat bangsa menjadi tercerai berai, maka api akan sangat mudah digunakan untuk membakar hingga bertindak secara reaksional liberal. Hal-hal semacam ini lah yang menjadi senjata bagi “mereka” untuk mewujudkan agenda yang penuh konsesus terselubung dalam merebut domunasi kekuasaan. Kegaduhan politik yang tercipta menjadi senjata untuk mengguncang rezim yang 
sedang berkuasa. 

Terlihat dalam berbagai unjuk rasa, problem yang dipermasalahkan kadang tak lagi penting, hanya untuk memperlihatkan kekuatan besarnya untuk memecah belah demi membentuk opini publik. Sayangnya sebagian masyarakat dan mahasiswa turut terjaring dalam pusaran politik kekuasaan.

Dapat disadari, pertentangan dan kegaduhan yang diciptakan tidak pernah fokus pada substansi, apabila pemerintah dapat mengcounter tuduhan-tuduhan, maka kegaduhan akan berpindah substansi ke hal lain, begitu seterusnya, seakan-akan kegaduhan dikembangbiakkan agar tidak pernah selesai.

Aturan dan prosedur hukum tak lagi menjadi halangan bagi pembuat kegaduhan untuk menyalurkan ambisinya, bahkan di saat kondisi kesahatan yang mengkhawatirkan di masa pandemi ini, masyarakat tetap diboyong dan didorong untuk berbuat kegaduhan. Disamping itu, belajar dari sejarah, politik yang gaduh kerap berdampak pada stabilitas ekonomi. 

Energi bangsa telah terkuras untuk mengatasi Pandemi, dan mengupayakan perekonomian tetap stabil dikala goyangnya perekonomian negara-negara di dunia. Mereka yang mempunyai hasrat dan ambisi nafsu kekuasaan, seperti tak lagi peduli dengan bangsa, dan terus membuat kegaduhan politik. Kemudian menyerang sisa energi dengan memunculkan isu-isu yang tidak produktif, strategis pun krusial yang tidak henti diciptakan.

Benteng negara yang sejatinya berpegag pada satu komando, justru ikut gaduh 
dan terseret arus politik, dan menjadi tontonan masyarakat luas. bukan tidak mungkin aparat dan instansi lain selanjutnya yang akan “digaduh”, karana upaya beternak kegaduhan ini tampaknya belum akan selesai sampai agenda-agenda terselubung untuk perebutan kekuasaannya tercapai. 

Meski pembuat Kegaduhan tidak akan pernah berhenti bertindak, kita rakyatlah yang harus bersikap tegas untuk menolak dipengaruhi. Tetap fokus dengan kesehatan diri, Negara tidak akan diam dan biarkan hal buruk terjadi. (Dr.K/a) 



 
Berita Lainnya :
  • BETERNAK KEGADUHAN
  •  
    Komentar Anda :

     
    Indeks Berita
    LUME Coffee & Lounge Siap Hadir di Pekanbaru Setelah Buka di Lima Cabang di Tanah Air, Tawarkan Konsep Tempat Bersantai Modern
    Selasa 28-07-2026 - 07:44
    Kejati Riau Geledah Kantor Disdik, Selidiki Dugaan Korupsi Pengadaan Smart Board 2024
    Kamis 23-07-2026 - 13:41
    Koordinasi dan Supervisi KPK Mendorong Kinerja Riau Petroleum, Plt Gubernur: Perkuat Tata Kelola, Tingkatkan Kontribusi terhadap PAD
    Kamis 23-07-2026 - 11:56
    Spanyol Akhiri Penantian 16 Tahun, Tumbangkan Argentina untuk Rebut Gelar Piala Dunia 2026
    Senin 20-07-2026 - 05:06
    Cara Cek Status Penerima Bansos Juli 2026, Masyarakat Bisa Lihat Posisi Desil Secara Online
    Minggu 19-07-2026 - 10:40
    Spanyol dan Argentina Berebut Takhta Dunia, Duel Yamal vs Messi Jadi Perhatian Final Piala Dunia 2026
    Minggu 19-07-2026 - 10:27
    Benni Sutanto Teliti Strategi Tingkatkan Target Penjualan di PT Victory International Futures
    Jumat 17-07-2026 - 10:53
    Karmila Sari Dorong Penguatan Regulasi LGBT Berpedoman pada Perpres Pertahanan Negara
    Rabu 15-07-2026 - 15:05
    Idris Laena : Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar, tetapi Ruang Membangun Peradaban
    Minggu 12-07-2026 - 10:34
    Niat Puasa Asyura 2026: Bisa Dibaca hingga Sebelum Zawal, Berikut Lafalnya
    Kamis 25-06-2026 - 06:09
    Waspada! Longsor Lembah Anai Akibatkan Jalan Padang-Bukittinggi Putus Total
    Rabu 24-06-2026 - 16:34
     
         
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    Hak Cipta © Riauberkabar.com | suara rakyat melayu