Ini Tanggapan Rektor Unri Sri Indarti Setelah di Demo Massa Mahasiswa Terkait UKT
RIAUBERKABAR, Pekanbaru - Setelah memanas laporan pencemaran nama baik oleh mahasiswa nya sendiri Rektor Unri Sri Indarti akhirnya menemui massa mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi terkait kenaikan UKT pada Selasa (14/5/2024).
Aksi tersebut dilaksanakan di depan Gedung Rektorat. Para mahasiswa menyuarakan soal kenaikan UKT dan IPI yang dinilai sangat mahal lagi memberatkan.
Terlihat beberapa dari mereka, membawa spanduk dan poster dengan tulisan berisi aspirasi dan sindiran.
Seperti misalnya 'UKT Untuk Kalangan Tinggi' serta 'UNRI Berkabung'.
Dalam aksinya, massa mahasiswa duit turut menyampaikan orasi secara bergiliran, serta kompak menyanyikan yel-yel.
Sri Indarti menyebut, pihaknya mempersilakan jika ada mahasiswa, orang tua, atau masyarakat lainnya yang menyatakan keberatan atas kenaikan uang kuliah itu.
" Kita membuka kanal pengaduan keberatan atau segala macam. Oleh sebab itu kita buka beberapa hari ini kanal pengaduan. Tapi kami juga sudah mengambil inisiatif. Kemarin sore kita sudah rapat. Akhirnya kita sepakati, jadi yang 12 itu kan SK-nya. Tapi implementasinya kan kita. Hasil kesepakatan kita," jelasnya.
"Dan akhirnya setiap Dekan mengajukan, misalnya Hukum sampai 5 saja, kita akomodir. Karena dekan-dekan yang tahu kondisi mahasiswanya masing-masing. Misal perikanan, sampai UKT 5, kita penuhi. Tapi yang jelas kita tetap berkeadilan. Jadi yang UKT 1, UKT 2, tetap minimal 20 persen," imbuhnya.
Bahkan dipaparkannya, UKT 1 dan 2 menurut data yang lalu, hampir 40 persen. Atau artian pembayaran SPP hanya Rp500 ribu sampai Rp1 juta per semester.
" Jadi artinya kita sudah memenuhi keinginan-keinginan orang-orang yang tidak mampu untuk berkuliah. Namun kenapa range-nya jadi panjang sekarang, itu tadi. Dulu UKT tidak banyak grade-nya. Misalnya orang mampu, pendapat orang tua Rp10 juta per bulan, kita letakkan di UKT 5. Terus ada yang orang tuanya Rp50 juta penghasilan per bulan, karena tidak ada ruangnya, kita letakkan di UKT 5, adil tidak kira-kira. Makanya kita buka UKT 6, UKT 7," urai Sri.
Menurutnya, sebelum penentuan UKT, calon mahasiswa mengisi data terlebih dahulu dengan beberapa kriteria. Seperti pendapatan orang tua, rumah, listrik, mobil, dan lain-lain.
Dari sana, nanti sistem yang akan menentukan kategori UKT.
"Jadi kalau kita tidak berkeadilan itu juga tidak bener. Artinya aspirasi tetap kita tampung," pungkasnya.
Sebelumnya, massa mahasiswa Unri sempat ingin merangsek masuk ke dalam Gedung Rektorat.
Sampai akhirnya Rektor UNRI Sri Indarti bersedia turun ke pintu depan Rektorat menemui mereka.
Mahasiswa ingin Rektor UNRI Profesor Sri Indarti, langsung menemui mereka untuk memberikan penjelasan soal kenaikan uang kuliah, sekaligus menyatakan akan mencabut kebijakan tersebut.
"Kami di sini menyampaikan aspirasi dengan baik, kami ingin Rektor hadir di tengah-tengah kami. Kami ingin menyampaikan segala permasalan yang ada, yang sama- sama hari ini kita rasakan, banyak kritik, aspirasi yang dilarang," ungkap seorang orator dari massa aksi.
"Kami ingin menyampaikan aspirasi kami secara baik. Kami ingin Rektor mencabut keputusan terkait kenaikan UKT," teriaknya lagi.(Riauberkabar.com/S)
Komentar Anda :