RIAUBERKABAR.COM, PEKANBARU - Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kulim, Pekanbaru, mengeluhkan kenaikan harga minyak goreng yang terus terjadi belakangan ini.
Kenaikan harga ini dinilai memberatkan pelaku usaha yang sangat bergantung pada minyak goreng sebagai bahan utama dalam produksi mereka.
Mahmud, seorang pengusaha keripik ubi di Kulim, mengungkapkan keresahannya terkait lonjakan harga minyak goreng yang ia anggap sudah tidak lagi terjangkau.
"Biasanya, harga satu derigen minyak goreng sekitar Rp400 ribu. Sekarang sudah di atas Rp520 ribu. Ini cukup mahal bagi kami yang usahanya skala kecil,” keluhnya.
Ia berharap pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, dapat memperhatikan kondisi ini agar UMKM tetap bisa bertahan.
Mahmud menegaskan bahwa para pelaku UMKM bukanlah pengusaha besar yang mencari keuntungan berlimpah, melainkan hanya berusaha mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga minyak goreng membuat mereka harus berpikir keras untuk menjaga stabilitas usaha.
Tidak hanya Mahmud, Nety Rianti, pelaku usaha kuliner empek-empek Palembang, juga merasakan dampak serupa. Ia mengeluhkan bahwa kenaikan harga minyak goreng berpengaruh besar pada pendapatannya.
"Semoga bisa turun lagi lah. Minyak yang sebelumnya murah seperti Minyakita saja sekarang sudah naik harganya,” ungkapnya.
Nety menjelaskan bahwa harga bahan baku yang terus naik memaksa dirinya untuk menaikkan harga jual produk. Namun, langkah ini tidak sepenuhnya efektif, karena daya beli masyarakat juga cenderung menurun akibat kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Pak Ucok, seorang pelaku usaha keripik ubi lainnya di Kulim, turut menyampaikan keresahannya. Ia menyebut bahwa kenaikan harga minyak goreng selama sebulan terakhir sangat memengaruhi biaya produksi.
"Kami sangat berharap harga minyak goreng bisa turun, supaya biaya produksi kami lebih ringan,"katanya.
Pak Ucok juga menambahkan bahwa stabilitas harga minyak goreng sangat penting bagi keberlanjutan usaha kecil seperti miliknya. Tanpa dukungan kebijakan yang membantu menekan harga bahan baku, banyak UMKM berisiko gulung tikar.
Menurut pantauan, kenaikan harga minyak goreng terjadi sejak sebulan terakhir, dengan rata-rata kenaikan sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000 per liter. Harga yang semakin mahal ini tidak hanya dirasakan di Pekanbaru, tetapi juga di berbagai wilayah lainnya di Indonesia.
Para pelaku UMKM berharap agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga minyak goreng. Mereka berharap adanya subsidi atau pengawasan ketat terhadap distribusi minyak goreng agar tidak terjadi permainan harga di pasaran.
Kondisi ini menjadi ujian berat bagi pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Dukungan dari pemerintah sangat diharapkan agar sektor UMKM tetap dapat bertahan dan terus memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.(*)
Komentar Anda :