RIAUBERKABAR.COM, PEKANBARU – Proses pemilihan Rektor Universitas Riau periode 2026–2030 hendaknya tidak hanya dilihat sebagai kompetisi antarcalon, tetapi juga sebagai proses menentukan sosok yang mampu membawa perguruan tinggi tersebut berkembang lebih jauh. Karena itu, karakter kepemimpinan, kemampuan membangun komunikasi, serta pengalaman mengelola institusi menjadi sejumlah aspek yang patut diperhatikan.
Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Datuk Seri H Raja Marjohan Yusuf menilai tahapan pemilihan yang telah berlangsung sejauh ini perlu dihormati oleh seluruh pihak. Dari delapan calon, proses penjaringan telah menghasilkan tiga nama yang kemudian akan mengikuti tahapan berikutnya sesuai mekanisme yang berlaku di kementerian.
Menurut Marjohan, proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme yang telah ditetapkan. Karena itu, setiap pihak sebaiknya dapat menerima hasil dari masing-masing tahapan dengan sikap dewasa dan tetap menjaga suasana yang kondusif di lingkungan Universitas Riau.
"Prosesnya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Dari delapan calon kemudian mengerucut menjadi tiga. Setelah ini ada proses lanjutan di kementerian. Apa yang sudah dilakukan dalam tahapan sebelumnya tentu kita maklumi dan dapat kita terima karena semuanya merupakan bagian dari proses," kata Marjohan.
Di antara tiga nama yang melanjutkan proses tersebut, Marjohan memberikan penilaian positif terhadap Dr. Mexsasai Indra. Ia mengaku pernah bertemu secara langsung dengan Mexsasai dalam sebuah pertemuan keluarga besar Air Molek. Pertemuan yang berlangsung secara tidak sengaja itu justru memberikan kesan tersendiri baginya.
"Dalam pertemuan itu kami sempat berbincang. Kesan saya, beliau orangnya humble, mudah bergaul dan komunikatif. Menurut saya, karakter seperti ini penting bagi seorang pemimpin karena dari komunikasi yang baik akan lahir kebersamaan," ujarnya.
Bagi Marjohan, kemampuan merangkul orang lain merupakan modal penting dalam memimpin sebuah perguruan tinggi. Universitas merupakan organisasi besar dengan berbagai latar belakang, kepentingan, dan pemikiran. Karena itu, seorang rektor membutuhkan kemampuan membangun titik temu serta menciptakan ruang kolaborasi di antara berbagai unsur yang ada.
Penilaian tersebut, lanjutnya, juga tidak hanya didasarkan pada karakter pribadi. Pengalaman Mexsasai selama menjalankan tugas sebagai Wakil Rektor menjadi pertimbangan lain. Pengalaman berada di tingkat pimpinan universitas dinilai memberikan pemahaman mengenai persoalan dan kebutuhan kampus secara lebih luas.
Marjohan berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi siapa pun yang nantinya dipercaya memimpin UNRI. Menurutnya, Universitas Riau sebagai salah satu perguruan tinggi ternama di Riau harus terus meningkatkan kualitas tata kelola dan memperluas kiprahnya, sehingga manfaat keberadaan kampus semakin dirasakan masyarakat.
Di tengah proses tersebut, Marjohan juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak menggunakan cara-cara yang dapat merusak suasana pemilihan. Ia menyayangkan jika muncul kampanye negatif yang bertujuan mendiskreditkan salah satu calon, karena hal tersebut justru berpotensi mengganggu marwah proses pemilihan.
"Kalau memang prosesnya sudah berjalan sesuai aturan, sebaiknya kita ikuti saja aturan itu. Tidak perlu kemudian muncul isu-isu negatif untuk menyerang calon lain. Mari kita lakukan secara fair dan dengan cara yang baik. Kita harus sama-sama menjaga marwah Universitas Riau," tegasnya.
Marjohan berharap siapa pun yang nantinya terpilih mampu membawa UNRI menjadi lebih baik, dengan tata kelola yang semakin kuat, budaya kolaborasi yang semakin luas, serta hubungan yang harmonis di antara seluruh sivitas akademika. Menurutnya, kepentingan terbesar dalam proses ini bukan kemenangan seseorang, melainkan masa depan Universitas Riau. (Ivn)
Komentar Anda :