RIAUBERKABAR.COM, PEKANBARU -- Kabut asap kembali menyelimuti Kota Pekanbaru dan sejumlah wilayah Kabupaten Kampar. Kondisi udara yang memburuk membuat sebagian warga memilih mengurangi aktivitas di luar rumah karena khawatir terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Pantauan pada Senin (14/9/2026) sore hingga malam, kabut asap terlihat semakin pekat. Kondisi tersebut salah satunya terasa di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, dengan jarak pandang yang mulai terganggu akibat asap.
Sejumlah warga mengaku kondisi tersebut kembali memburuk setelah sempat lebih baik dalam beberapa hari terakhir. Hujan yang turun sebelumnya sempat membuat kabut asap berkurang, namun kepulan asap kembali terasa dalam beberapa hari terakhir.
Seorang warga Pekanbaru, Riko mengatakan, kondisi udara membuat dirinya membatasi aktivitas bersama keluarga di luar rumah. Ia memilih segera kembali ke rumah setelah melihat kabut asap semakin tebal pada Senin malam.
Menurutnya, kondisi kabut asap di Pekanbaru sudah dirasakan dalam beberapa pekan terakhir. Hujan sempat memberikan sedikit perbaikan terhadap kualitas udara, tetapi kondisi tersebut tidak bertahan lama.
Warga lainnya, Heni yang berdomisili di kawasan Sukajadi, juga mengeluhkan dampak kabut asap. Aktivitas menggunakan sepeda motor membuatnya harus berhadapan langsung dengan kondisi udara yang dipenuhi asap.
Ia mengaku mulai mengalami batuk dan gangguan pernapasan ketika kondisi asap kembali memburuk. Karena itu, aktivitas di luar rumah kini sebisa mungkin dikurangi.
Keluhan serupa juga dirasakan warga lainnya. Batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman hingga napas yang terasa berat menjadi keluhan yang muncul ketika kabut asap semakin pekat.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kabut asap tidak hanya terjadi di pusat Kota Pekanbaru. Asap juga dirasakan warga di sejumlah kawasan yang berdekatan dengan wilayah terjadinya Karhutla.
Warga berharap penanganan Karhutla dapat dilakukan lebih serius dan menyeluruh. Mereka meminta titik-titik kebakaran yang masih terjadi segera ditangani agar asap tidak terus berulang dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga memilih lebih berhati-hati ketika harus beraktivitas di luar rumah. Terutama bagi warga yang mulai merasakan gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kabut asap yang kembali pekat ini juga terjadi ketika BMKG masih memprakirakan adanya peluang hujan di sejumlah wilayah Riau. Hujan diharapkan dapat membantu mengurangi kondisi asap, namun penanganan sumber Karhutla tetap diperlukan agar persoalan tidak kembali berulang.
Pemerintah bersama tim gabungan masih melakukan penanganan terhadap sejumlah titik Karhutla di Riau. Upaya pemadaman dan pendinginan diperlukan untuk mencegah api kembali muncul dan asap semakin meluas. (*)
Komentar Anda :